Joseph Setiawan's Blog

Sharing About Automotive, Traveling, Business Opportunity & etc

Traveling – Dream Holiday Destination – Hawai

leave a comment »

Hawaii adalah surganya para pelancong. Ungkapan itu, khususnya bagi warga Amerika Serikat, begitu nyata. Pasalnya, iklim di Negara Bagian Hawaii terasa hangat sepanjang tahun. Kepulauan di Samudra Pasifik ini pun memiliki kekayaan obyek wisata. Tak mengherankan kalau sektor wisata merupakan penyumbang pendapatan terbesar di Hawaii. Jauh lebih besar dibanding negara bagian yang lain, termasuk New York.

Saya sendiri ke Hawaii bukan untuk berlibur. Saya terbang dari Jakarta melalui Singapura dan Tokyo untuk mengikuti konferensi tentang studi Asia di Honolulu, ibu kota Negara Bagian Hawaii, yang terletak di Pulau Oahu dari akhir Maret hingga pertengahan awal April lalu. Saya dan mungkin banyak orang lain sering salah sangka bahwa Honolulu terletak di Pulau Hawaii. Padahal negara bagian ke-50 Amerika itu terdiri atas beberapa pulau, yakni Oahu, Maui, Kauai, Molokai, Lanai, dan Hawaii sendiri, yang lebih sering disebut The Big Island.

Oahu merupakan pulau terpadat dan pusat industri pariwisata. Pantai yang paling terkenal adalah Waikiki. Belum ke Hawaii kalau pelancong tak mengunjungi Pantai Waikiki ini. Pantai sepanjang 2,4 kilometer itu merupakan pusat berbagai kegiatan dan fasilitas pariwisata.

Setelah hari-hari melelahkan di gedung konferensi, saya dan beberapa teman memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi Honolulu dan Pulau Oahu. Di Pantai Waikiki, kita bisa berjemur, mengambil kelas surfing, berlayar, melihat matahari terbenam sambil makan malam, maupun sekadar melihat atraksi tari hula-hula dan atraksi lain dari penduduk asli Pulau Oahu.

Sementara di daratan Amerika (mainland) ada suku Indian, suku asli Kepulauan Hawaii adalah orang-orang Polynesia. Kebudayaan dan ciri fisik mereka lebih dekat dengan kebudayaan dan ciri fisik suku-suku asli yang berdiam di Kepulauan Pasifik, seperti Fiji, Samoa, dan Vanuatu. Hawaii sendiri satu-satunya negara bagian di Amerika yang memiliki tradisi kerajaan, walaupun sekarang sudah musnah akibat serangan “warga kulit putih” dan kekuasaan Amerika.

Sisa-sisa kekuasaan Raja Hawaii bisa terlihat dengan jelas pada nama-nama penting yang dilekatkan pada nama jalan, seperti Kamehameha, yang merupakan nama Raja Kerajaan Hawaii. Kita pun bisa datang ke Iolani Palace dan patung Raja Kamehameha II di pusat kota Honolulu untuk melihat artefak dari kerajaan ini. Bagi yang suka taman mini kebudayaan Polynesia, dapat mengunjungi Polynesian Cultural Center, yang dikelola oleh Gereja Mormon.

Namun saya agak terganggu oleh pameran suku lokal. Memang banyak program acara, seperti tur ke desa-desa buatan yang lengkap dengan aktivitas warga sehari-hari, misalnya memanjat pohon kelapa, pertunjukan tari api, dan pertunjukan teater. Bagi turis, hal ini baik-baik saja. Tapi saya tidak suka terhadap politik yang merepresentasikan suku-suku Polynesia ini sebagai primitif dengan budaya yang statis.

Menurut saya, orang-orang Polynesia itu kompleks, tidak sekadar terikat dengan tradisi mereka, seperti tari dan peralatan tradisional. Mereka sekarang telah beradaptasi dengan dunia modern. Bahkan mungkin bisa dikatakan kebudayaan asli mereka sebenarnya telah dihancurkan oleh para pendatang dan kepentingan politik federal Amerika. Tapi sudahlah, saya orang luar dan pendapat saya ini mungkin mereduksi kompleksitas persoalan di Hawaii.

Keindahan dan kegiatan turisme terbesar di Hawaii memang berpusat di pantai. Dan untungnya hampir semua obyek wisata pantai, kecuali Hanauma Bay Park, yang merupakan tempat konservasi, tidak mengenakan biaya masuk alias gratis. Bahkan pantai yang terletak di depan hotel-hotel besar, macam Hilton atau Ritz-Carlton, tak satu pun yang boleh melarang orang untuk berada di sana.

Pulau Oahu sendiri memiliki banyak pantai yang indah selain Waikiki, yang sudah sangat padat dan tereksploitasi. Pantai Hanauma Bay, tempat salah seorang teman melakukan snorkeling, merupakan cagar alam laut yang didedikasikan untuk usaha konservasi dan pendidikan publik tentang kekayaan biota laut maupun tempat melakukan olahraga air. Tiket masuk Hanauma Bay Park adalah US$ 5 (dewasa).

Bagi yang lebih suka surfing atau memancing, pantai seperti Waimea Bay terasa lebih gereget karena ombaknya yang sangat menantang. Olahraga surfing sendiri merupakan olahraga air yang “ditemukan” pertama kali di Hawaii. Kami memilih Pantai Waimanalo Bay untuk berpiknik. Menurut teman kami, Paul Rausch, yang telah tinggal lebih dari 10 tahun di Hawaii, ia lebih suka Waimanalo karena pantainya sangat sunyi dan indah. “Waikiki terlalu penuh dengan turis, “ujarnya.

Dengan hutan cemara yang memadati pinggir pantai serta pasir berwarna kuning dengan air bening bagai kristal, Pantai Waimanalo Bay merupakan tempat yang tepat untuk menikmati liburan. Kita bisa berpiknik, berjemur, membaca, atau sekadar tidur tanpa diganggu oleh turis-turis lain yang hilir-mudik. Pantai ini bisa ditempuh dengan bus umum atau mobil.

Di Pulau Oahu, sebagai pusat pariwisata Amerika, sebenarnya kita bisa menggunakan berbagai moda transportasi untuk berkeliling pulau. Mulai mobil pribadi, mobil sewaan, shuttle bus melalui tur, sampai menyewa sepeda motor matic. Harga sewa mobil berkisar US$ 24-30 per hari (tanpa sopir). Sepeda juga banyak, tapi untuk keliling pulau rasanya agak ambisius karena medannya yang lumayan naik-turun serta jauh.

Perjalanan menyusuri pantai lengkap dengan titik-titik pengamatan seperti di Makapu’u Point atau Windward serta jalan-jalan pegunungan yang berkelok-kelok memberi kesan tersendiri. Selain bisa melihat rumah tradisional orang Hawaii, kita dapat melihat padang rumput, gunung atau bukit, serta ranch kuda.

Bagi yang bosan dengan pantai, Pulau Oahu menyediakan bentuk kegiatan outdoor yang lain, yakni hiking atau naik gunung-bukit. “Gimana enggak senang tinggal di Hawaii, apa pun ada di sini. Laut, pantai, gunung, sungai, semuanya lengkap,” kata Slamet Thohari, teman yang kuliah master di Universitas Hawaii di Manoa.

Pulau-pulau di Hawaii adalah pulau-pulau yang terbentuk akibat kegiatan vulkanik. Karena itu, kita bisa melihat dengan jelas bentang Pulau Oahu diwarnai oleh bukit-bukit kecil dan gunung yang berbatu-batu maupun berpepohonan tropis lengkap dengan lekuk curam akibat proses lava yang mendingin. Salah satu tempat yang kami kunjungi di Hawaii adalah Diamond Head.

Bukit setinggi 232 meter ini merupakan titik penting untuk melihat pemandangan Kota Honolulu (beserta pantai-pantainya) dari ketinggian. Dengan membayar US$ 1 (sekitar Rp 8.600), kita bisa menempuh perjalanan selama dua jam untuk mencapai puncak tertinggi Diamond Head. Trek hiking atau naik gunung yang juga direkomendasikan adalah ke Gunung Koolau di sisi timur Pulau Oahu.

Untuk yang suka kehidupan flora-fauna, Kota Honolulu mempunyai Foster Botanical Garden, yang mirip Kebun Raya Bogor. Atau kalau mau bermobil agak jauh, pergilah ke North Shore, yang menyediakan bukan hanya pantai-pantai yang indah, melainkan juga Dole Plantation di Kamehameha Highway, sekitar 40 menit dari Pantai Waikiki.

Sejak awal abad ke-19, Hawaii terkenal dengan perkebunan nanasnya. Bahkan Hawaii pernah menjadi penghasil nanas terbesar di dunia. Kini kejayaan itu sudah pudar, tapi sisa-sisanya masih terlihat di Dole Plantation. Untuk yang tertarik bunga dan kopi (kopi Kona merupakan kopi terkenal dari Hawaii), wisatawan harus terbang ke pulau lain (atau mengambil paket wisata seharga US$ 200 ke Kona di Big Islands).

Puas dengan menyambangi pantai, saya kembali ke pusat Kota Honolulu untuk melihat museum Honolulu Academy of Arts. Museum ini didirikan oleh Anna Rice Cooke pada 1922. Selain memiliki koleksi seni rupa yang relatif kaya dan beragam, Honolulu Academy of Arts memiliki program pemutaran film. Selain karya-karya “besar” seniman Barat macam Claude Monet, Picasso, Robert Rauschernberg, Gauguin, Van Gogh, dan Nam June Paik, Honolulu Academy of Arts merupakan salah satu museum yang kaya dengan koleksi seni Asia.

Selain artefak-artefak dari Korea dan Cina, koleksi paling menarik di museum ini adalah koleksi karya seni Jepang, India, seni Islam (terutama dari Iran, Turki, dan Maroko), dan bahkan seni Indonesia. Karya-karya seni Indonesia disajikan dalam bentuk arca dari zaman Majapahit; peranti kesenian; dan topeng dari Jawa, Batak, dan Toraja; hingga kain batik maupun tenun dari Lombok dan Sumbawa.

Kekayaan koleksi seni Indonesia di Amerika ini mungkin hanya tertandingi oleh Metropolitan Museum dan Museum of Natural History di New York serta Museum of Arts Institute Chicago. Untuk yang tertarik karya seni dari seniman lokal Hawaii serta peninggalan kerajaan Hawaii, Bishop Museum adalah tempat yang tepat.

Wisata sejarah yang kami pilih adalah mengunjungi Pearl Harbour dengan menumpang bus nomor 42 ke arah suburban. Sebagai pangkalan militer, Pearl Harbour merupakan tempat yang sangat bersejarah. Di sinilah tentara Jepang menyerang kapal perang USS Arizona pada 1941 dan mendorong keterlibatan Amerika dalam Perang Dunia II.

Di Pearl Harbour, kita bisa berkunjung ke makam para tentara dan warga sipil Amerika yang meninggal saat penyerangan Jepang, melihat-lihat interior kapal perang USS Bowfin, maupun melihat tinjauan peristiwa Pearl Harbour lewat display di Pacific Aviation Museum. Meski museum militer, Pacific Aviation Museum memiliki ruang pamer dan penataan yang sangat menarik.

Selain kegiatan outdoor dan kunjungan ke museum-museum, kami mengunjungi bagian paling menarik dari Kota Honolulu, yakni pecinan. Dibanding di Chinatown yang pernah saya kunjungi di berbagai belahan dunia, Chinatown di Honolulu terhitung sangat rapi dan bersih. Bahkan bisa dibilang Chinatown merupakan daerah paling hip bagi penyuka seni kontemporer, kehidupan malam, arsitektur klasik, dan teater.

Selain memiliki Hawaii Theatre, yang selalu memiliki jadwal pertunjukan (semacam Broadway-nya Hawaii), Chinatown memiliki galeri seni rupa, restoran, bistro kecil yang menarik, bar, serta butik. Yang paling aneh, selain banyaknya populasi keturunan Tionghoa, Chinatown di Honolulu memiliki banyak restoran Vietnam, yang membuktikan pentingnya kehadiran komunitas ini di sana.

Saya sempat berkeliling sendiri (sebenarnya setiap Sabtu, komunitas arsitek Honolulu memberi tur arsitektur secara gratis) di bangunan-bangunan yang didirikan pada awal abad ke-19 sambil melihat kesibukan warga keturunan Tionghoa dan Vietnam di pasar. Saya dan teman-teman juga sempat melakukan tur kuliner dengan makan di restoran Little Village yang terkenal dengan salad serta resto Indigo dengan makanan Pan-Asia dan koleksi bir-anggurnya yang banyak.

Pencinta masakan Prancis tentu tidak bisa melewatkan resto Pho Bac (Prancis-Vietnam) and Brasserie du Vin di depan gedung Hawaii Theatre. Saya punya tempat favorit sendiri, yakni Pho-One di Jalan Kapiolani untuk makanan Vietnam yang luar biasa lezat. Sementara itu, untuk cheesecake dan salmon yang enak, Cheesecake Factory di Pantai Waikiki adalah yang terbaik di seluruh Oahu.

Makanan asli Hawaii sendiri ternyata tidak banyak mengandung ikan. Justru dua mangkuk nasi ditambah daging adalah menu utama. Tak mengherankan, orang-orang asli Hawaii memiliki badan superbesar macam kulkas berpintu dua.

Tur yang paling lucu di Hawaii sebenarnya adalah mengunjungi sekolah Presiden Barack Obama. Obama menempuh sisa sekolah dasar dan sekolah menengahnya di Honolulu. Berbeda dengan SD Besuki di Jakarta, sekolah Obama terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada patung Obama atau semacam itu. Namun terlihat bahwa sekolahnya merupakan sekolah bagi kelas berada.

Perjalanan di Hawaii tak lengkap rasanya tanpa belanja oleh-oleh di International Market dan tentu saja, toko semua umat, ABC Stores. Dalam sekejap, koper akan penuh dengan kaus, lei (kalungan bunga Hawaii), kacang Macadamia, manisan nanas, atau kopi Kona dari Hawaii yang terkenal. Aloha, Hawaii!

Sumber :
Minggu, 08 Mei 2011 | 11:12 WIB
Menjelajah Antero Pulau Oahu Hawaii
TEMPO Interaktif
VERONIKA KUSUMARYATI, bekerja sebagai kurator dan peneliti film dan video, tinggal di Jakarta.

Written by Joseph Setiawan

September 3, 2011 at 10:18 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: