Joseph Setiawan's Blog

Sharing About Automotive, Traveling, Business Opportunity & etc

Automotive – Serba Serbi Mesin Diesel – Pengaruh Bahan Bakar

leave a comment »

Pengalaman yang dialami penulis adalah :
1. Toyota Fortuner 2010 diesel automatic saat memakai bio solar hanya mampu mencapai top speed 120 kmh. Pemakaian bio solar dikarenakan di luar kota tidak ada solar sejenis sheel / / total / pertamina dex yang dapat ditemui
2. Saat km mencapai 5.000 km, oleh Auto 2000 cilandak mobil diganti :
– filter solar – 1/3 bagian sudah terlihat hitam
– dilakukan pembersihan injector
– dilakukan setting ulang pada mesin
– dilakukan pembersihan / pencucian sistem gas buang / knalpot dari mulai
header sampai mufler
3. gas buang mulai hitam
4. suara mesin mulai kasar

Hasilnya :
1. saat ini mobil sudah bisa mencapai top speed sesuai standard pabrik (menurut info dari service advisor auto 2000 cilandak) yaitu 140 kmh
2. tarikan lebih enak
3. gas buang jauh lebih bersih
4. suara mesin lebih halus

Berikut adalah ulasan dari tabloid otomotif yang menjelaskan mengapa sebaiknya mesin diesel common rail memakai solar berkualitas:

Ibarat mesin injeksi ada peminum bensin, dapur pacu common rail masa kini sudah canggih dengan pengontrol mesin elektronis. Lantas, bagaimana dengan perawatannya? Sudah pasti berbeda. Akan tetapi jangan bayangkan prosedur jelimet dengan berbagai macam tahap mutakhir dulu. Ternyata semua bisa dimulai dengan langkah ringan. Salah satunya, kontrol terhadap bahan bakar.

Mampat Bikin Loyo

Nyatanya, mesin diesel tetaplah diesel. Karakternya masih bisa mencermikan peminum solar tipe lawas. Misalnya, dari jaman dulu mesin diesel akan terasa lebih loyo kalah kondisi saringan udaranya kotor. Pada mesin bensin, kondisi ini bisa sedikit terobati karena percikan api di dalam silinder yang memantik bahan bakar.

Nah pada diesel, saringan udara kotor mengurangi jumlah udara yang bisa diledakkan dengan bahan bakar yang tersedia. Pun demikian dengan saringan bahan bakar. Kalau kotor bisa menghambat jumlah bahan bakar.

Saringan udara bisa ikut prosedur pengecekan servis rutin. Misal dibersihkan setiap 10 ribu kilometer. Namun bagaimana dengan saringan solar? Bisa pantau indikator di dasbor, kalau sudah menyala harus diperiksa, ujar Edwin Prihadi, kepala bengkel Tunas Pasar Minggu, Jakpus.

Bisa coba dipompa dulu untuk memastikan bahan bakar sudah naik. Namun jika lampu indikator tidak kunjung mati, saringan bahan bakar sebaiknya diganti. Menurut servis manual, saringan bahan bakar diganti setiap 80 ribu km, lanjutnya. Namun kalau sudah memperlihatkan pertanda apkir, sebaiknya segera diganti.

Pengecekan saringan solar sangat penting artinya pada mesin diesel common rail. Karena tekanan injeksinya bisa berlipat dari diesel konvensional. Sehingga pengaruh bahan bakar bisa langsung terasa di tenaga.

Jika dibiarkan, bisa saja menyerang komponen mekanis common rail. Ada empat bagian utama common rail, yaitu common rail pump, rail pressure, common rail injector dan sensor-sensor. “Keempat komponen itu, gejalanya sama, ujar Tommy Subagja, technical manager Fakta Jaya Motor, Bosch Diesel Center di Taman Sari Jakpus.

Upaya perbaikan bisa dicoba lakukan dengan test bench canggih khusus common rail. Sehingga setiap komponen bisa beroperasi kembali sesuai spesifikasinya.

Sumber :
mobil.otomotifnet.com
Penulis : Manut | Editor : Bagja
Kamis, 29 September 2011

Written by Joseph Setiawan

October 2, 2011 at 11:03 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 35 other followers

%d bloggers like this: